Universiti Al-Azhar dan Jasa Soekarno

Al-Azhar dan Soekarno: Kisah di Balik Bertahannya Kiblat Keilmuan Islam Dunia
Mesir memiliki banyak simbol kebesaran peradaban: Sungai Nil, piramida, dan sejarah panjang ribuan tahun. Namun, kehormatan dan kekuatan utama Mesir di mata dunia Islam—bahkan dunia internasional—adalah Al-Azhar. Lembaga ini bukan sekadar universitas, melainkan mercusuar keilmuan Islam yang telah menerangi umat selama lebih dari seribu tahun.

Syaikh Ali Jumu’ah pernah mengisahkan sebuah peristiwa penting yang jarang diketahui publik: bagaimana Al-Azhar nyaris ditutup, dan bagaimana seorang tokoh dari Nusantara justru berperan besar dalam menyelamatkannya.

Al-Azhar di Ambang Penutupan

Pada masa pemerintahan Gamal Abdul Nasir, Mesir berada dalam fase revolusi besar. Nasir tengah menata ulang struktur negara, memikirkan perangkat-perangkat penting untuk memajukan masyarakat Mesir, baik secara politik, sosial, maupun ideologis.

Dalam proses itu, Nasir bahkan sempat mempertimbangkan sebuah keputusan besar: menutup Al-Azhar dan menggantinya dengan lembaga lain yang dianggap lebih sejalan dengan visi negara saat itu.

Keputusan ini bukan lahir dari kebencian terhadap agama, melainkan dari kalkulasi politik dan negara. Namun, Nasir sendiri berada dalam kebimbangan—hingga sebuah pertemuan mengubah segalanya.

Soekarno dan Peringatan yang Menyadarkan

Pada tahun 1959, Gamal Abdul Nasir bertemu dengan Ir. Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia, dalam sebuah pertemuan di Bandung. Hubungan keduanya dikenal sangat dekat. Soekarno dan Nasir bukan hanya sekutu politik, tetapi juga sahabat yang saling menghormati.

Dalam pertemuan itu, Soekarno bertanya,
“Apa yang sedang kamu lakukan, Nasir?”

Nasir menjawab dengan jujur,
“Hari ini aku akan menandatangani keputusan untuk menutup Al-Azhar.”

Soekarno terkejut. Ia langsung berkata,
“Mengapa kamu menutup Al-Azhar? Untuk apa? Apakah kamu juga ingin menutup Sungai Nil dan Piramida?”

Soekarno melanjutkan dengan kalimat yang sangat tajam maknanya,
“Kami tidak akan pernah mengenal Mesir, jika bukan karena Al-Azhar.”

Menurut Soekarno, hubungan Mesir dengan dunia Timur—termasuk Indonesia—terbangun melalui Al-Azhar. Dari sanalah hubungan intelektual, budaya, dan keislaman terjalin. Tanpa Al-Azhar, dunia Islam tidak akan memahami Mesir, dan Mesir akan kehilangan identitas globalnya.

Dengan tegas Soekarno berkata,
“Keputusan ini berbahaya. Dan keputusan ini keliru.”

Keputusan yang Mengubah Sejarah

Nasir mendengarkan dengan saksama. Ia menyadari bahwa informasi yang disampaikan Soekarno membuka sudut pandang yang selama ini luput dari perhitungannya.

Setelah Soekarno selesai berbicara, Nasir bertanya,
“Lalu, apa yang seharusnya aku lakukan?”

Soekarno menjawab singkat namun menentukan,
“Pertahankan Al-Azhar. Dukung dan kuatkan Al-Azhar.”

Nasir pun menjawab,
“Baiklah.”

Al-Azhar Menjadi Rujukan Dunia Islam

Dari perbincangan itulah sejarah berubah. Pada tahun 1961, Nasir memerintahkan penyusunan Undang-Undang Nomor 103 Tahun 1961 tentang pengembangan Al-Azhar. Klausa pertamanya menegaskan bahwa Al-Azhar adalah rujukan dunia Islam, bukan hanya milik Mesir.

Nasir kemudian:

Membentuk Majelis Tinggi Urusan Keislaman

Mendirikan Majalah Mimbar Islam

Meluncurkan Radio Al-Qur’an Al-Karim

Memperluas peran internasional Al-Azhar

Menguatkan posisi Al-Azhar sebagai pusat moderasi Islam

Al-Azhar: Kekuatan Lunak Mesir

Nasir akhirnya menyadari satu hal penting:
Al-Azhar adalah kekuatan lunak (soft power) Mesir di dunia internasional.

Tanpa Al-Azhar, Mesir mungkin tetap memiliki Nil dan piramida. Namun tanpa Al-Azhar, Mesir tidak akan memiliki pengaruh spiritual dan intelektual di dunia Islam.

Dan ironisnya, kesadaran itu justru datang dari seorang pemimpin Muslim jauh dari Kairo—dari Indonesia.

Penutup

Kisah ini bukan sekadar sejarah, tetapi pelajaran besar:
bahwa ilmu dan lembaga keilmuan sering kali menjadi jantung peradaban, bahkan ketika penguasa nyaris melupakannya.

Al-Azhar berdiri hingga hari ini, bukan hanya karena Mesir—
tetapi karena umat Islam dunia menyadari nilainya.

Dan dalam sejarah itu, nama Soekarno tercatat sebagai sosok yang pernah mengingatkan dunia:
bahwa menjaga ilmu, berarti menjaga peradaban.

Comments

Popular posts from this blog

π— π—˜π—‘π—šπ—”π—‘π—šπ—žπ—”π—§ π—§π—”π—‘π—šπ—”π—‘ π— π—˜π—‘π—šπ—”π— π—œπ—‘π—žπ—”π—‘ 𝗗𝗒𝗔 π—žπ—˜π—§π—œπ—žπ—” π—žπ—›π—”π—§π—œπ—• π—•π—˜π—₯𝗗𝗒𝗔

Benarkan Selawat Tafrijiyyah mengandungi unsur syirik?

LAFAZ MEWAKILKAN SAMA ADA UCAPAN ATAU DALAM BORANG KORBAN